Second Chance


Second Chance

Title : Second Chance

Ratting : PG

Length : Oneshoot

Genre : Romance, Sad, Sad Ending

Author note : Hi readers!~ Lama gak update ff, hehe:p, mmm, karena dapet ide, jadi aku buat ff baru! Aku comeback dengan membawa cerita KhunToria Couple!!>< Please enjoy it! RCL!~^^

Main Cast :

– Nickhun Buck Horvejkul as Nickhun

– Victoria Song as Victoria

Other Cast :

– Find it by yourself~^^

Matahari pagi yang lembut mulai menyelimuti kota Seoul. Burung-burung gereja mulai beterbangan di angkasa bebas. Daun-daun jingga kekuningan berjatuhan di tepi jalan, seperti warna rambut seorang pria yang sedang menapaki jalan yang penuh dengan dedaunan itu.

Pria itu bernama Nickhun. Nickhun menyusuri jalan dengan dua tangkai mawar merah yang entah kenapa, digenggamnya dengan erat. Sangat erat.

“Seoul Social Graveyard”

Nickhun berhenti didepan gapura bertuliskan kata-kata tersebut, memandangnya dengan seksama, menggenggam dua tangkai mawarnya lebih erat, lalu masuk kedalamnya.

Annyeong Victoria, aku datang.”

Setelah berjalan cukup lama, melewati banyak batu nisan yang tidak dikenalinya, Nickhun sampai didepan sebuah batu nisan dengan ukiran yang manis dan indah.

“Victoria Song”

Nama itu terukir jelas diatas batu nisan yang seringkali Nickhun kunjungi. Tanpa berpikir panjang, Nickhun meletakkan dua tangkai mawar yang Ia bawa tepat diatas makam Victoria, lalu menundukkan kepalanya.

“Victoria, 2 hari lagi, kita akan merayakan anniversary kita untuk yang ketiga kalinya, kau tau itu bukan? Victoria, aku yakin… Aku yakin kau selalu mendengar semua ucapanku untukmu, aku yakin kau selalu melihat semua yang kulakukan untukmu, meski aku tau kita berada di dunia yang… Berbeda.  Kau tau? Aku selalu bermimpi, kau dapat hidup kembali, dan menghabiskan sisa waktu kita… Bersama-sama. Mungkin, itu saja yang bisa kukatakan hari ini, saranghaeyo… Aku pergi dulu ya, annyeong..”

Nickhun mencium batu nisan Victoria dengan lembut dan penuh kasih sayang, lalu meninggalkan Victoria.

###

“Nickhun… Hiks… Hiks…”

Victoria memandang Nickhun yang kini tengah berbicara dengannya. Victoria tak pernah menyangka, bahwa Nickhun akan selalu setia menemaninya, meskipun Nickhun dan Victoria berada di dunia yang… Berbeda.

“Aku pergi dulu ya, annyeong..”

“Jangan pergi, Nickhun! Jangan! Aku masih ingin bersamamu! Nickhun!”

Namun, ucapan Victoria tidak akan berarti apa-apa, karena Victoria dan Nickhun berada di alam yang… Berbeda.

“Nickhun, kau tau? Sepanjang hidupku disini, aku sangat menyesal. Aku sangat menyesal, ketika aku tak bisa mengatakan semuanya padamu, dulu…”

(***)

“Nick… Nick… Nickhun…”

“Victoria! Jangan! Jangan tinggalkan aku! Victoria!”

“Maafkan aku, Nickhun… Aku tak bisa mengatakannya padamu… Aku.. Aku takut… Kau akan khawatir… Dan meninggalkan semua yang… ing… ingin kau capai…”

“Kau tidak akan seperti ini, bila kau memberitahuku…”

“Maafkan aku…”

“Victoria!”

“Nick… Nickhun… Berjanjilah padaku… Kau harus hidup bahagia… Di… Di saat… ku telah… tiada.”

“VICTORIA!!”

Dalam sekejap, nyawa Victoria telah direnggut oleh sesosok malaikat yang tentunya, tak dapat terlihat oleh Nickhun.

“Hiks hiks… Victoria… Seharusnya… Kau memberitahuku… Hiks… Tentang penyakitmu… Sejak dulu… Hiks hiks…”

Nickhun tak bisa menahan air mata. Air matanya terus mengalir dengan deras. Andaikan semuanya tidak terlambat… Andai waktu bisa terulang… Victoria akan tetap berada disisi Nickhun… Untuk waktu yang lebih lama.

(***)

Setelah berjalan cukup lama, Nickhun sampai di apartemen tempat Ia tinggal. Nickhun pun masuk, melepaskan jaketnya, lalu duduk di depan meja belajarnya. Entah mengapa, Nickhun mengambil sebuah buku yang diberi Victoria… Sehari sebelum kepergiannya. Buku itu berjudul “Second Chance”, yang menceritakan kisah sepasang kekasih. Dalam cerita itu, sang gadis yang meninggal dunia dapat terbangun kembali setelah sang pria mengatakan sebuah kalimat.

“You are my first and last love, it’s only you.”

Itulah kata-kata yang diucapkan sang pria pada sang gadis. Tetapi, cerita itu tidak terjadi pada Nickhun dan Victoria. Atau mungkin… Belum terjadi. Setiap Nickhun berkunjung ke makam Victoria, Nickhun selalu mengatakan hal itu. Namun, kehidupan Nickhun tetap tak berubah. Victoria pun tak terbangun dari makamnya.

Tiba-tiba, sepucuk surat terjun di udara bebas, menuju meja Nickhun. Dengan penuh rasa heran, Nickhun meraih surat itu sebelum mendarat di atas mejanya, lalu membacanya.

Hi, Nickhun!

Kau pasti tak akan menyangka! Nickhun, aku diberi kesempatan oleh malaikat untuk hidup kembali! Aku tak tau harus berbuat apa untuk membalas kebaikan malaikat itu! Tapi yang terpenting adalah… Aku bisa menemuimu lagi… Setelah tiga tahun lamanya… Jika kau tak keberatan, temui aku di Princess Café jam 9 pagi, temui aku disaat hari anniversary kita, kutunggu kehadiranmu!

With love,

 

Victoria Song

Nickhun mematung. Matanya terbelak. Nickhun tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Lidahnya terlalu kelu untuk mengatakan sesuatu. Nickhun begitu senang, sehingga Ia meneteskan air mata bahagia, setelah sekian lama tidak merasakan kebahagian seindah itu.

Dengan senyuman yang terlukis di wajahnya, Nickhun merebahkan tubuhnya diatas ranjangnya. Nickhun mulai menatap langit-langit kamar yang dipenuhi dengan gambar-gambar Victoria. Dulu, Victoria selalu menggambar di langit-langit kamar Nickhun saat Victoria berkunjung ke apartemen Nickhun.

“Victoria, satu langkah lagi… Aku akan menemuimu.”

###

Nickhun keluar dari apartemen dengan balutan kaos biru langit dengan celana jeans serta sepatu keds putih. Hari ini, Nickhun berencana untuk membelikan Victoria hadiah untuk hari anniversary nya nanti.

Nickhun mulai menyusuri jalanan kota yang penuh dengan deretan toko-toko. Tiba-tiba, Nickhun melihat kalung bertuliskan “Fate” yang terpajang di sebuah toko perhiasan. Nickhun pun masuk kedalam toko itu, membeli kalung bertuliskan “Fate”, lalu meminta seorang pegawai untuk membungkusnya.

“Maaf, Tuan, apakah Anda ingin menambahkan surat atau sesuatu kedalam kado ini?”

“Ah, ne, aku hampir lupa, ini, tolong masukan ini kedalam kado itu.”

Ne.”

Sang pegawai menerima sepucuk surat dari Nickhun, memasukkannya kedalam kado tersebut, lalu memberikannya pada Nickhun.

“Ini, Tuan.”

Ne, kamsahamnida.

Ne.”

Setelah menyelesaikan urusannya di toko perhiasan, Nickhun berjalan pulang menuju apartemennya. Menunggu hari esok yang akan sangat berarti untuknya.

###

Hari yang ditunggu Nickhun dan Victoria pun tiba. Ya, hari anniversary mereka untuk yang ketiga kalinya, sekaligus pertemuan mereka untuk yang pertama kalinya, setelah sekian tahun tak bertemu secara langsung…

Nickhun telah meninggalkan apartemennya dengan balutan tuxedo putih serta sepatu putih yang mengkilat. Tak lupa, Nickhun telah membawa kado bernuansa biru muda dan putih, warna kesukaan Victoria.

Satu hari sebelum Victoria dan Nickhun bertemu, Nickhun telah memesan tempat yang sangat disukai Victoria, yaitu di dekat sungai yang mengalir dengan perlahan, serta aroma rumput hijau yang segar.

Setelah beberapa menit melakukan perjalanan, Nickhun sampai di “Princess Café” lima belas menit sebelum jam yang Victoria tentukan. Namun, Nickhun merasakan sesuatu yang mengganjal. Nickhun merogoh kantungnya, namun Ia tak bisa menemukan apapun. Nickhun meninggalkan telepon genggam dan dompetnya di apartemen, karena terlalu senang untuk bertemu Victoria. Karena Nickhun merasa masih ada waktu untuk kembali ke apartemen, Nickhun pun kembali ke apartemen untuk mengambil telepon genggam dan dompetnya.

###

Victoria menarik napas dalam-dalam. Akhirnya, setelah sekian lama tidak menghirup udara segar di bumi, Ia bisa merasakannya untuk pertama kalinya. Dengan balutan dress bernuansa biru putih selutut, bando pita berwarna biru, serta flatshoes berwarna putih, Victoria masuk kedalam “Princess Café”.

Annyeonghaseyo, apa kau tau dimana Tuan Nickhun berada?”

Ooo, Tuan Nickhun? Nickhun Buck Horvejkul maksud Nona?”

Ne.”

Tuan Nickhun telah memesan tempat untuk dua orang, mungkin Ia ingin bertemu Nona, silahkan menuju meja disebelah sana, Nona.”

Sang pegawai café menunjuk salah satu meja di dekat sungai yang mengalir dengan cukup deras. Itu adalah tempat yang paling Victoria sukai. Tanpa berpikir panjang, Victoria berjalan perlahan menuju meja yang ditunjuk pegawai itu.

“Nickhun dimana ya? Aku rindu sekali padanya.”

“Nona Victoria! Nona Victoria!”

Tiba-tiba, sang pegawai café yang baru saja memberi tau dimana Ia harus duduk memanggilnya dengan penuh histeris. Wajah pegawai itu begitu panik.

“Ada apa?”

“Tuan Nickhun… kecelakaan!”

###

Nah, ini dia.”

Nickhun mengambil telepon genggam dan dompetnya, lalu meninggalkan apartemennya secepat mungkin.

Di perjalanan menuju Princess Café, Nickhun membuka telepon genggamnya, lalu memandangi foto Victoria yang ada didalamnya.

“Victoria, aku sangat- AAA!”

Tiba-tiba, sebuah mobil menabrak Nickhun dengan cepat. Nickhun pun terlempar hingga berjarak sekitar satu meter dari depan Princess Café. Sang pemilik mobil tidak turun dari mobilnya, mobil itu terus melesat ke arah tujuannya.

Sang pegawai café melihat kecelakaan tersebut. Dengan cepat, sang pegawai memberitahu Victoria. Victoria pun dengan cepat berlari ke tempat Nickhun tergeletak, sedangkan sang pegawai café cepat-cepat menelpon tenaga medis untuk membantu Nickhun.

“Nickhun!!”

“Vi… Vic… Victoria…”

Dengan kekuatan yang masih tersisa, Nickhun berusaha memeluk Victoria. Victoria pun dengan cepat memeluk Nickhun.

“Nickhun… Hiks hiks… Apa yang terjadi?”

“Ti… tid… tidak penting… Vic… Toria… Yang… Ter… Pen… Ting… Adalah… Tuhan… Memberi… Ku… Kesem… Patan… Kedua… Untuk melihat… Mu… Mung… Kin… Sekarang… Saatnya… Aku… Pergi.. Sa… Sarang… Saranghaeyo, Vic… Toria- AAK!

“Nickhun!! Nickhun!! Hiks Hiks… Jangan pergi!!”

Dan… hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya.

Hal ini terjadi untuk yang kedua kalinya, untuk Nickhun dan Victoria. Victoria dan Nickhun tak pernah tau, takdir manis atau pahit yang akan mereka hadapi. Mereka tak pernah berpikir, kalau semuanya akan berakhir… Seperti ini.

Ambulans pun datang. Para tenaga medis pun keluar dengan membawa sebuah tandu dari bagian belakang ambulans. Nickhun pun dibawa oleh tenaga medis, ditemani oleh Victoria.

###

“Seoul Social Graveyard”

Untuk kesekian kalinya, Victoria datang kesana. Namun, kali ini, rasanya berbeda. Semua terasa berbeda. Seharusnya inilah tempat tinggal Victoria, bukan tempat tinggal Nickhun. Seharusnya inilah tempat yang membuat Victoria kesepian, bukan Nickhun. Dengan langkah yang tidak bersemangat, Victoria berjalan perlahan… Menuju makam Nickhun.

Annyeong, Nickhun, aku datang.”

Victoria meletakkan dua tangkai mawar merah muda tepat diatas makam Nickhun, lalu menundukkan kepalanya.

“Nickhun, seharusnya akulah yang berada di posisimu. Seharusnya inilah yang menjadi tempat tinggalku, bukan tempat tinggalmu. Seharusnya inilah tempat yang kau kunjungi setiap hari untuk melihatku, bukan aku yang seharusnya berkunjung kesini setiap hari… Untuk melihatmu. Nickhun, aku takkan pernah melupakan hari itu. Aku takkan pernah melupakan kejadian dua hari yang lalu, meski… Harus berakhir seperti ini. Aku harap, kau bahagia disana, dan jangan khawatir… Aku akan selalu setia menemanimu… Sampai aku… Berada di alam yang sama denganmu… Lagi. Aku pergi dulu ya, annyeong, saranghaeyo, Nickhun.”

Victoria pun mencium batu nisan Nickhun, menyentuhnya dengan penuh rasa cinta dan kasih sayang, lalu pergi meninggalkan “Seoul Social Graveyard”.

Victoria tidak langsung pulang menuju apartemen Nickhun, yang menjadi tempat tinggal barunya itu, tetapi Victoria pergi ke Princess Café, untuk mengambil sesuatu yang Ia rasa… akan Nickhun berikan untuknya… Namun tak sempat Nickhun beri.

Annyeonghaseyo! Ada yang bisa saya bantu, Nona Victoria?”

Ah, ne. Aku mencari sebuah kotak kado yang terletak diatas meja pesanan Tuan Nickhun dua hari yang lalu, apa kotak kado itu masih ada?”

Ah, ne! Kotak kado itu! Saya menyimpannya, ini.”

Pegawai café itu memberi kotak kado yang dimaksud kepada Victoria.

Kamsahamnida.”

“Ne.”

Victoria pun berjalan menuju salah satu meja yang paling Ia sukai, lalu membuka kotak kado biru putih itu.

Wow! Aku sangat menyukainya!”

Victoria mengangkat kalung berukiran “Fate” yang diberikan Nickhun. Tiba-tiba, Victoria melihat sepucuk surat didalam kotak kado itu. Victoria pun memakai kalung pemberian Nickhun, mengambil surat dari Nickhun, membukanya, lalu membacanya dengan seksama.

Hi, Victoria!

Lama tidak berjumpa, kau bagaimana kabarnya? Aku disini baik-baik saja. Victoria, di hari anniversary kita ketiga tahun ini, aku akan memberimu kalung berukiran “Fate”, mengapa? Karena, takdir apapun yang kita hadapi, entah itu manis atau pahit, kita harus menerimanya dengan lapang dada. Jika Tuhan tidak mengizinkan kita bertemu dalam keadaan yang sempurna, maka kita bisa bertemu dalam keadaan yang tidak sempurna, dan jika Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bertemu sebelum umurku benar-benar habis, maka itu adalah takdir. Itu adalah takdir dan tiada seorang pun yang dapat mengubahnya. Mungkin saat kita menerima takdir buruk kita akan murung, atau bahkan menangis. Tapi disaat kita menerima takdir manis, serasa… Kita ingin tersenyum dan tertawa sepanjang hari… Hingga akhirnya kita menerima takdir lainnya, seperti saat kita menerima takdir manis, kita bisa saja berakhir dengan takdir pahit, begitu juga sebaliknya. Victoria, kurasa, hanya ini yang bisa kusampaikan, Saranghaeyo…

With Love,

 

            Nickhun

Victoria tak sanggup menahan air matanya. Air matanya mengalir kian deras. Semua perkataan Nickhun benar. Kita tak akan pernah tau, apa takdir yang akan menimpa kita, dan kapan kita tutup usia.

“Nickhun, aku berjanji, aku akan selalu menghadapi takdirku dengan lapang dada, aku akan melakukan semuanya demi kebaikanmu… Dan kebaikanku.”

Selesai~

Kurang sedih yaaa? Hehe, ya aku cuman bisa kasih ini, thanks for reading, don’t forget to leave a comment!^^

Advertisements

Cheer Me Up!:)

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s